Dari Krisis ke Euforia: Bisakah Timnas Indonesia Menghapus Kekecewaan Bursa?

Langit Jakarta tampak muram. Awan-awan gelap menggantung di atas gedung-gedung pencakar langit, seakan mencerminkan suasana hati para investor di Bursa Efek Indonesia. Hari itu, Selasa, 18 Maret 2025, menjadi salah satu hari paling menegangkan dalam sejarah pasar modal Indonesia. IHSG jatuh bebas. Bukan sekadar penurunan kecil, melainkan terjun bebas seperti seseorang yang kehilangan pegangan di tepi jurang. Tak ada pegangan, tak ada harapan, hanya kejatuhan yang menyakitkan.

Di ruang-ruang kantor, para investor menatap layar monitor dengan wajah pucat. Angka-angka merah berkedip tanpa ampun. Detik demi detik, nilai saham mereka menyusut, uang yang semalam masih ada, kini lenyap seperti asap. Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), kepanikan menyebar lebih cepat daripada berita resmi. Beberapa orang mulai bicara pelan, lalu semakin keras. "Ada apa ini? Kenapa pasar panik seperti ini?"

Lalu keputusan diambil. Trading dihentikan. BEI menarik rem darurat. Seperti seorang petinju yang menerima pukulan bertubi-tubi, pasar diberi waktu untuk menarik napas, menenangkan diri sebelum kembali ke ring. Tetapi, di luar gedung, bisik-bisik berubah menjadi ketakutan. Apakah ini awal dari kehancuran ekonomi?

Beberapa analis mencoba mencari jawaban. Ada yang menyebut faktor eksternal, ada yang menyalahkan sentimen global, dan ada pula yang percaya bahwa kepanikan ini adalah efek domino dari kebijakan yang salah arah. Namun, di tengah semua spekulasi, datang seseorang yang tak disangka-sangka. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad.

Kehadiran yang Mengubah Arah

Dasco tiba di BEI dengan langkah tegap. Wajahnya tetap tenang, meski ia tahu bahwa di dalam gedung ini, ribuan orang sedang mengalami krisis kepercayaan. Ia tidak datang untuk menyelamatkan ekonomi dengan kebijakan, bukan pula dengan suntikan dana. Ia datang dengan sesuatu yang lebih sederhana, tetapi tak kalah penting: kepercayaan diri.

Ia berbicara dengan para pemangku kepentingan, menenangkan para investor yang mulai panik, lalu berdiri di depan kamera. "Jangan panik. Pasar akan pulih."

Entah karena kata-katanya atau sekadar kebetulan, tak lama setelah itu, IHSG mulai bangkit. Dari yang semula terjun bebas, angka-angka merah perlahan berubah menjadi biru. Seperti pasien yang hampir koma, tetapi tiba-tiba sadar kembali. Pasar bernafas. Investor mulai tenang. Dasco melangkah pergi dengan senyum tipis.

Seketika, muncul spekulasi baru: Apakah ini kebetulan, ataukah kehadiran Dasco benar-benar menyelamatkan IHSG?

Tapi kisah ini belum berakhir. Dua hari setelah bursa terguncang, Indonesia akan menghadapi pertarungan lain. Bukan di lantai perdagangan, tetapi di lapangan hijau. Timnas Indonesia akan melawan Australia di Sydney.

Timnas Indonesia dan Beban yang Lebih Besar

Dua puluh Maret. Sydney. Indonesia menghadapi Australia dalam laga kualifikasi Piala Dunia. Ini bukan pertandingan biasa. Ini adalah ujian terbesar bagi skuad Garuda dalam beberapa tahun terakhir.

Di atas kertas, semua orang tahu siapa yang lebih kuat. Australia adalah raksasa Asia. Mereka langganan Piala Dunia, punya pengalaman, dan selalu menjadi ancaman bagi tim-tim dari Asia Tenggara. Sementara itu, Indonesia datang sebagai tim yang sedang dalam masa transisi, mencoba membuktikan diri di panggung yang lebih besar.

Tapi ada sesuatu yang membuat pertandingan ini lebih dari sekadar permainan sepak bola. Hari itu, Indonesia tidak hanya membawa sebelas pemain ke lapangan. Mereka membawa beban kekecewaan sebuah bangsa.

Dua hari sebelumnya, rakyat Indonesia melihat IHSG jatuh. Mereka melihat kekacauan, kepanikan, ketidakpastian. Sekarang, mereka melihat ke layar lain—bukan layar bursa, tetapi layar televisi—menunggu jawaban lain. Bisakah Timnas Indonesia memberikan sesuatu yang bisa mereka banggakan minggu ini?

Karena seperti halnya pasar saham, sepak bola bukan hanya soal angka. Sepak bola adalah soal kepercayaan diri, semangat juang, dan keberanian. Dan itulah yang akan diuji di Sydney.

Jika Dasco Bisa Menyelamatkan IHSG, Bisakah Ia Menyelamatkan Timnas?

Di tengah ketegangan itu, muncul pertanyaan satir yang menggelitik: Jika kehadiran Dasco di BEI bisa mengangkat IHSG dari keterpurukan, apakah kita perlu mengirimnya ke Sydney agar Timnas Indonesia menang?

Tentu saja, ini hanya permainan pikiran. Tapi di dunia yang penuh ketidakpastian seperti sepak bola, siapa yang tahu? Mungkin yang dibutuhkan Timnas bukanlah kehadiran seorang politisi di tribun, tetapi seseorang yang bisa membangkitkan semangat mereka, seperti IHSG yang tiba-tiba bangkit setelah kehadiran Dasco.

Karena pada akhirnya, kemenangan tidak ditentukan oleh angka, analisis statistik, atau teori ekonomi. Kemenangan ditentukan oleh siapa yang paling percaya bahwa mereka bisa menang.

Saatnya Garuda Terbang, Saatnya Bangsa Bangkit

Ketika wasit meniup peluit kick-off, Sydney akan bergemuruh. Ribuan pendukung Australia akan bersorak, mencoba menekan mental pemain Indonesia. Tapi jauh dari stadion, di Jakarta, di Surabaya, di Banjarmasin, di Makassar, di seluruh pelosok Indonesia, dari warung kopi hingga gedung-gedung pencakar langit, jutaan pasang mata akan menatap layar, berharap.

Bukan hanya berharap Timnas menang. Tapi berharap ada sesuatu yang bisa menghapus kekecewaan mereka minggu ini.

Sepak bola tidak bisa menyelamatkan ekonomi. Sepak bola tidak bisa mengembalikan uang yang hilang di bursa.

Tapi sepak bola bisa memberi sesuatu yang lebih penting: harapan.

Dan itulah yang dibutuhkan bangsa ini sekarang.

Jadi, setelah IHSG jatuh dan sempat terselamatkan oleh kehadiran Wakil Ketua DPR, bisakah Timnas Indonesia mengangkat kembali semangat kita?

Atau mungkinkah kita perlu mengirim Pak Dasco ke Sydney, agar Garuda bisa terbang lebih tinggi?

Jika setelah pertandingan Timnas benar-benar menang, mungkin kita perlu mempertimbangkan trading halt di sepak bola juga—setidaknya untuk menenangkan detak jantung kita semua! ⚽(AM)

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dari Krisis ke Euforia: Bisakah Timnas Indonesia Menghapus Kekecewaan Bursa?", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/alfianalfian1404/67da6677d321366a5e362702/dari-krisis-ke-euforia-bisakah-timnas-indonesia-menghapus-kekecewaan-bursa?page=all

Kreator: Alfian Misran

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *