Ketika Zakat Menemukan Arah, dan Harapan Menemukan Jalan
Ramadhan datang seperti biasa, membawa damai dan harap yang mengalir di antara denyut kota dan desa. Tapi di balik gemuruh doa dan lantunan tilawah, ada pertanyaan sunyi yang terus mengendap di hati banyak umat: "Ke mana sebaiknya zakatku disalurkan?"
Di sebuah sudut Kalimantan Selatan, seorang ayah menatap layar ponselnya yang menampilkan laporan digital dari BAZNAS. Di samping, anak lelakinya yang baru saja belajar tentang rukun Islam bertanya dengan polos, "Abi, zakat kita buat siapa tahun ini?"
Sang ayah tak langsung menjawab. Ia menarik napas, mengingat kembali tahun-tahun di mana ia menyalurkan zakat secara spontan: kadang ke kotak amal di pinggir jalan, kadang ke orang asing yang ditemuinya saat lampu merah. Ia sadar, niat baik tidak selalu cukup. Zakat adalah amanah. Ia butuh arah.
Di Balik Angka, Ada Cerita yang Belum Selesai
Zakat bukan soal besarannya di atas kertas, tapi soal siapa yang tak bisa makan jika ia tak sampai ke tempatnya
Potensi zakat di Indonesia luar biasa: Rp327 triliun per tahun. Tapi hanya sekitar Rp33 triliun yang benar-benar terkumpul. Selebihnya? Masih tercecer, tersesat, atau bahkan tak pernah benar-benar sampai ke tangan yang berhak.
Di Kalimantan Selatan, angkanya lebih menyentuh hati. Dari potensi Rp3,1 triliun, yang berhasil dikumpulkan baru sekitar Rp247 miliar. Padahal, zakat yang terkumpul itu bukan hanya angka. Ia adalah harapan untuk anak yang ingin sekolah, untuk petani yang ingin panen, dan untuk ibu yang ingin mengobati anaknya tanpa harus berutang.
"Kalau semua zakat itu benar-benar tersalurkan," pikir sang ayah, "Kalimantan Selatan tak perlu lagi bergantung pada bantuan luar. Kita bisa mandiri, saling menguatkan dari dalam."
BAZNAS: Lebih dari Sekadar Lembaga, Ia Penjaga Amanah
Ketika niat baik bertemu sistem yang benar, kebaikan tak lagi acak tapi ia menjadi terarah
Sang ayah mengenal BAZNAS bukan dari brosur, tapi dari cerita nyata. Dari para petani di Barito Kuala yang dibina lewat program Lumbung Pangan Berkah, yang kini tak lagi tergantung pada tengkulak. Dari ibu-ibu pelaku usaha kecil yang belajar pemasaran digital lewat program Digital Micropreneur. Dari para mahasiswa yatim yang mendapat Beasiswa Cendekia untuk melanjutkan kuliah di tengah keterbatasan.
Ia tahu, BAZNAS bukan hanya tempat menitipkan zakat. Ia adalah tangan panjang dari cita-cita sosial Islam: keadilan, kemandirian, dan keberkahan.
Apalagi menjelang Idulfitri, ketika zakat fitrah menjadi kewajiban setiap jiwa. Ia ingin zakat anak dan istrinya tersalurkan bukan sekadar cepat, tapi juga tepat. Lewat BAZNAS, ia melihat sistem yang bekerja: dari data mustahik, distribusi merata, hingga laporan keuangan yang bisa diakses siapa saja.
Tiga Aman yang Menguatkan Keyakinan
Zakat yang aman bukan hanya sah di langit, tapi juga kokoh di bumi dan selamat di tengah bangsa
"Abi, kenapa nggak kasih langsung aja ke orang di jalan?" tanya anaknya lagi.
Pertanyaan polos itu menyentak.
Sang ayah menjelaskan dengan lembut, "Karena zakat bukan cuma soal kasih. Tapi soal tanggung jawab. Kita harus pastikan zakat kita aman secara syar'i, artinya sesuai ajaran Islam. Aman secara regulasi, artinya sesuai hukum negara. Dan aman untuk NKRI, artinya zakat itu ikut menjaga negeri kita dari kemiskinan dan perpecahan."
Ia menjelaskan bahwa BAZNAS adalah lembaga resmi berdasarkan UU No. 23 Tahun 2011. Dikelola profesional. Diawasi syariah. Diaudit keuangannya. Dan tak bisa disusupi kepentingan politik atau ideologi ekstrem.
Hari Raya dan Harapan yang Menyebar
Apa arti Idul Fitri jika hanya kita yang bersuka cita, sementara tetangga tetap lapar?
Idulfitri pun tiba. Di jalan-jalan kampung, anak-anak berlarian mengenakan pakaian baru. Di masjid, jamaah berjejal dalam takbir yang menggetarkan dada.
Sang ayah tersenyum melihat seorang tetangganya, seorang buruh harian yang tahun ini bisa menyekolahkan anaknya karena bantuan dari BAZNAS. Ia juga melihat seorang nenek di daerah pelosok yang bersyukur menerima daging kurban dari program Kurban Berkah, dan anak-anak yatim di kampung sebelah yang tersenyum bahagia karena perhatian dari program Bahagia Anak Soleh.
Ia sadar, zakat bukan hanya kewajiban personal. Ia adalah simpul kebersamaan. Ia menyatukan mereka yang memiliki dan mereka yang membutuhkan dalam satu ikatan: saling jaga, saling rawat.
Di Antara Takbir dan Kesadaran Baru
Di balik takbir, ada kesadaran bahwa zakat adalah suara hati yang menemukan jalannya
Malam itu, setelah silaturahmi dan hidangan ketupat, sang ayah membuka aplikasi BAZNAS. Ia menunjukkan ke anaknya bagaimana zakat keluarga mereka tercatat, ke mana disalurkan, dan siapa yang menerima.
"Lihat, Nak. Zakat kita mungkin sedikit. Tapi kalau semua orang menyalurkan lewat tempat yang benar, hasilnya akan besar. Sangat besar."
Anaknya tersenyum. Mungkin ia belum sepenuhnya paham. Tapi benih kepercayaan itu sudah ditanam.
Zakat Bukan Hanya Angka, Tapi Arah
Zakat yang terarah bukan hanya menyucikan harta, tapi juga menuntun bangsa keluar dari gelapnya ketimpangan
Zakat bukan soal seberapa banyak kita beri. Tapi seberapa jauh ia memberi dampak. Ia bukan sekadar amal, tapi juga sistem sosial yang mengubah nasib.
Lewat BAZNAS, zakat menjadi gerakan yang terstruktur, terukur, dan berpihak pada yang benar-benar butuh. Bukan hanya meringankan beban, tapi juga membangun masa depan.
Ramadhan ini, mari kita arahkan zakat kita ke saluran yang tepat. Bukan sekadar agar sah secara syariat, tapi juga kuat secara sosial dan strategis.
Karena zakat bukan hanya membersihkan harta. Tapi juga menumbuhkan harapan. Dan menjaga negeri.(AM)
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jejak Zakat di Tanah Banua: Refleksi Ramadhan dari Kalimantan Selatan", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/alfianalfian1404/67e7c853ed64151b922f13a2/jejak-zakat-di-tanah-banua-refleksi-ramadhan-dari-kalimantan-selatan?page=3&page_images=1
Kreator: Alfian Misran
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
