Paku yang Menumbangkan Negeri
Terungkapnya skandal korupsi di Pertamina pada 2025 dengan kerugian mencapai Rp193,7 triliun telah menggemparkan publik. Skandal ini menunjukkan bahwa sistem pengawasan dan pelaporan keuangan di BUMN, khususnya Pertamina, masih sangat rentan terhadap fraud berskala besar. Pertanyaannya, mengapa akuntan gagal mendeteksi korupsi sebesar ini?

Pada masa ketika Kaisar belum mengenal meriam dan dunia belum kenal listrik, berdirilah sebuah negeri bernama Lian, dijaga oleh gunung-gunung berkabut dan sungai yang membisikkan doa rakyat.

Di perbatasan timur negeri itu, tinggal seorang jenderal agung bernama Ji Wuxian. Dialah yang dipercaya menghalau musuh dari Negeri Wuya yang terkenal licik dan sabar menanti lengahnya lawan. Ji Wuxian dikenal dengan mata setajam rajawali dan pikiran serupa pisau yang tak tumpul oleh usia.

Ketika kabar serangan tiba, ia segera mempersiapkan segalanya. Benteng diperkuat. Persediaan makanan dihitung. Pedang diasah. Sepatu kuda dipaku ulang, semua tampak sempurna.

Kecuali satu.

Seekor kuda abu-abu milik kurir istana tampak gelisah. Paku di salah satu sepatunya longgar. Seorang pandai besi muda memperingatkan: “Jika tidak dipaku ulang, sepatu bisa copot di tengah jalan.”

Namun sang kepala logistik hanya tertawa sambil menepuk pundaknya, “Itu cuma kuda pembawa surat. Tak akan menentukan kalah-menangnya perang.”

Pandai besi menunduk. Ia hanya anak baru. Suaranya kalah oleh jabatan.

Hari pertempuran pun tiba. Negeri Wuya menyerang dari tiga arah. Ji Wuxian butuh bantuan dari selatan, dan ia mengirim pesan lewat sang kurir berkuda. Lembah yang sepi menjadi jalur harapan.

Namun takdir menyimpan catatan kecil.

Di tengah perjalanan, kuda itu terpeleset. Sepatunya lepas. Kurir jatuh. Pesannya beterbangan ke jurang. Tak ada yang tahu. Tak ada yang datang.

Sementara itu, di benteng timur, Ji Wuxian menunggu tanda panji dari pasukan bantuan. Ia menunggu hingga malam menggulung siang. Tapi tiada kabar, tiada bala. Musuh mengepung, api membakar menara, dan suara rakyat berubah jadi jeritan.

Negeri Lian jatuh. Bukan karena kurang pasukan. Bukan karena strategi buruk. Tapi karena sebuah pesan tak sampai. Karena kuda tergelincir. Karena satu paku yang tak tertanam.

Di hari terakhir, ketika istana telah jadi abu, Raja Lian memanggil Ji Wuxian.

“Kau jenderal yang tak pernah gagal. Bagaimana bisa negeri ini runtuh dalam dua hari?”

Ji Wuxian menunduk dalam. Di tangannya, ia menggenggam paku kecil berkarat yang ditemukan di tempat jatuhnya sang kurir. Lalu ia berkata:
“Karena satu paku, sepatu lepas.
Karena sepatu lepas, kuda jatuh.
Karena kuda jatuh, pesan hilang.
Karena pesan hilang, bala tak datang.
Karena bala tak datang, negeri tumbang.”

Dan sejak hari itu, di setiap gerbang barak militer, dituliskan peringatan abadi:

"Karena satu paku yang hilang, sebuah kerajaan pun tenggelam" (AM)